ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POTENSI RISIKO KEKERASAN SEKSUAL DI TEMPAT KERJA PADA PEKERJA OPERATOR PEREMPUAN DI INDUSTRI MANUFAKTUR

Repository Analytics

Statistic Details

Updated data
10Viewes
0Downloaded
10Accessed per month
2Countries
Loading...
Thumbnail Image

Authors

Lestari, Anggun Dwi

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Politeknik Negeri Batam

Abstract

Kekerasan seksual di tempat kerja merupakan persoalan manajemen sumber daya manusia yang serius, terutama pada pekerja operator perempuan di industri manufaktur yang bekerja dalam sistem shift dan struktur hierarkis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh rasio gender, relasi kuasa, status kerja, budaya organisasi, beban kerja, dan pengetahuan tentang kekerasan seksual terhadap potensi risiko kekerasan seksual di tempat kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif dan cross-sectional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dari 220 pekerja operator perempuan industri manufaktur di Kota Batam yang dipilih dengan teknik non-probability sampling berdasarkan kriteria tertentu. Data dianalisis dengan regresi linier berganda menggunakan SPSS setelah model dinyatakan memenuhi seluruh asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan autokorelasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap potensi risiko kekerasan seksual di tempat kerja (F = 168,627; p < 0,001) dengan koefisien determinasi sebesar 0,826. Secara parsial, rasio gender, relasi kuasa, status kerja, budaya organisasi, dan beban kerja berpengaruh positif signifikan, sedangkan pengetahuan tentang kekerasan seksual berpengaruh negatif signifikan sehingga berperan sebagai faktor protektif. Status kerja dan rasio gender merupakan prediktor dengan pengaruh terbesar. Berdasarkan nilai koefisien regresi terstandarisasi (Standardized Coefficients Beta), status kerja merupakan prediktor dengan pengaruh relatif terbesar terhadap potensi risiko kekerasan seksual di tempat kerja (β = 0,368), diikuti oleh budaya organisasi (β = 0,288) dan rasio gender (β = 0,211). Penggunaan nilai Beta ini diperlukan karena satuan pengukuran (jumlah indikator) antar variabel independen berbeda, sehingga nilai B (unstandardized) tidak dapat digunakan untuk membandingkan kekuatan relatif antar prediktor secara langsung. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pencegahan yang komprehensif, mencakup perbaikan struktur ketenagakerjaan, penguatan budaya organisasi, pembatasan penyalahgunaan kuasa, pengelolaan beban kerja, dan edukasi berkelanjutan bagi pekerja perempuan di industri manufaktur.

Description

Citation

APA

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By