1Viewes
KOMPARASI NILAI BEBAN PENDINGIN PADA RUANG SWITCHGEAR SUBSTATION BERDASARKAN PERBEDAAN PENDEKATAN NUMERIK (STUDI KASUS DI LNG X)
Repository Analytics
Statistic Details
0Downloaded
1Accessed per month
1Countries
Loading...
Date
Authors
Syaifullah, Masyudul Haq
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Politeknik Negeri Batam
Abstract
Sistem tata udara (Heating, Ventilation, and Air Conditioning / HVAC) memegang peranan strategis dalam menjaga
kestabilan kondisi termal serta menjamin keandalan operasional peralatan listrik, terutama pada fasilitas industri
berskala besar seperti Liquefied Natural Gas (LNG). Di dalam fasilitas LNG, ruang Switchgear Substation
merupakan salah satu area yang bersifat kritis karena berfungsi sebagai pusat distribusi daya dan beroperasi secara
terus-menerus dengan kontribusi beban panas internal yang signifikan. Ketidakakuratan dalam menentukan besaran
beban pendinginan pada ruang tersebut berpotensi menimbulkan ketidakefisienan penggunaan energi, penurunan
performa peralatan, serta meningkatnya risiko kegagalan sistem. Oleh sebab itu, penentuan beban pendinginan yang
presisi menjadi tahapan yang sangat penting dalam proses perancangan sistem HVAC. Penelitian ini mengkaji dan
membandingkan perhitungan beban pendinginan ruang Switchgear Substation pada fasilitas LNG menggunakan
dua pendekatan, yaitu metode Cooling Load Temperature Difference (CLTD) dan simulasi perangkat lunak Carrier
Hourly Analysis Program (HAP) 5.11. Perhitungan dilakukan berdasarkan parameter termal bangunan, data iklim
lokal, serta beban internal dari peralatan listrik dan pencahayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode
CLTD menghasilkan beban pendinginan sebesar 51,956 kW, sedangkan simulasi HAP menghasilkan 48,634 kW,
dengan selisih 6,40% yang masih berada dalam batas toleransi desain sistem HVAC. Perbedaan tersebut disebabkan
oleh pendekatan CLTD yang bersifat steady-state dengan asumsi kondisi puncak tetap, sedangkan HAP
menggunakan simulasi dinamis berbasis data per jam yang mempertimbangkan variasi suhu, radiasi matahari, dan
beban internal. Dalam konteks perancangan, metode CLTD dapat digunakan sebagai alat estimasi dan validasi awal,
sementara HAP lebih sesuai untuk desain detail dan analisis efisiensi energi pada proyek berskala besar.
Description
Citation
IEEE
